Raja Perkasa dan Permaisuri Negeri Bawah Angin


BANDA ACEH - Bangunan itu tampak di dalam sebuah taman yang mengajar pagar setinggi orang dewasa, terlihat di sampingnya yang menukilkan kisah yang bagunan ini sudah ada ratusan tahun lalu. Pada satu sisi, ada satu hal yang berbeda dari yang terjadi saat ini yang datang ke Banda Aceh.

Sosok Permaisuri menghasilkan Kerajaan Aceh Darussalam periode 1607-1636 Masehi yang dikenal sebagai pemraisuri termasyhur masa itu. Nama besar Iskandar Muda dan Puteri Kamaliah (puteri pahang) yang melegenda, disedot para wisatawan bertempatan ke taman yang berada di komplek bekas istana raja-raja Aceh nenek itu, Taman Puteri Pahang Kota Banda Aceh.

Taman ini menjadi salah satu situs wisata sejarah dan religi di Banda Aceh, sejarah besar Sultan Iskandar Muda dan penerapan hukum syariat islam di negeri ini menjadi daya tarik bagi wisatawan dalam dan luar negara. Terlebih negara-negara jiran seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand dan negara lain.

Gunongan di taman puteri pahang ini secara umum digunakan pada umumnya, berukir indah bak gunung miniatur sentuh raksasa. Satu tempat jamuan makan kuno yang megah di sampingnya, menyirat kemegahan dan kecintaan raja untuk permaisuri kala itu. Pekarangan komplek taman ini asri dengan tanaman bunga-bunga dan reruputan hijau yang menyejukkan mata para pengunjung.

Dalam komplek istana Sultan Iskandar Muda dan Puteri Pahang, banyak terdapat situs cagar budaya dan peninggalan sejarah seperti Bangunan-Bangunan tua yang kini dikenal sebagai Museum Negeri Aceh, alutista peninggalan masa penjajah, dan makam raja-raja Aceh dan keluarga.

Sultan Iskandar Muda mangkat pada 27 Desember 1636 dalam waktu 43 tahun. Jasadnya dikubur di daerah Darul Dunya, komplek Istana Kerajaan Aceh Darussalam. Saat Belanda menginvansi Aceh, jejak makam Iskandar Muda dihilangkan kolonial untuk melenyapkan sejarah kegemilangan baya masa lalu.

Jejak makamnya ditemukan kembali pada tanggal 19 Desember 1952 oleh Pocut Meurah, permaisuri raja Aceh terakhir, Sultan Alaidin Muhammad Daudsyah, yang saat itu sudah menjadi seabad. Kemudian dibangun permanen seperti sekarang.

Namun, sebagian orang yang mempercayai makam yang dibeton itu hanya monumen untuk mengenang Iskandar Muda saja, sementara makam asli Sultan Iskandar Muda sudah ada lagi, walau ada juga.

Menurut sejarah, Iskandar Muda lahir tahun 1593. Ibunya Putri Raja Indra Bangsa alias Paduka Syah Alam, anak Sultan Alaudin Riyat Syah, pimpinan Kerajaan Aceh Darussalam ke-10. Dari pihak sebaliknya, besarbesaran dinasti Dinasti Mahkota Alam.

Nama kecilnya Perkasa Alam. Nama lain, nama asli Raja Zainal yang digelari Dhama Wangsa. Baru saat itu akil balik dia dijuluki Perkasa Alam, sering juga dipanggil Johan Syah.

Dia diberi gelar Sultan Iskandar Muda saat naik tahta lisan Sultan Ali Riyat Syah (1604-1607) yang telah mangkat.

Diimbangan, Kerajaan Aceh mencapai puncak kegemilangan. Wilayah kekuasaannya meliputi dunia Melayu, mulai dari Aceh, sebagian Sumatera hingga semenanjung Malaka (sekarang Malaysia).

Bandar Aceh Darussalam (Banda Aceh sekarang) sebagai Ibu Kota Kerajaan Aceh menjadi pusat perdagangan yang paling sering disinggahi kapal dari berbagai negara untuk transit.

Selat Malaka menjadi lalu lintas pelayaranungsi kapal-kapal pengangkut hasil bumi dari Asia ke Eropa. Sejarah, Iskandar Muda orang-orang yang paling penting dalam menjaga ketetapan ekonomi daerah itu.

Karena menjanjikan secara ekonomi, Portugis terus mengincar Selat Malaka sering membungkuk dengan polisi Aceh yang mati-mati mempertahankannya dari kekuasaan asing.

Berdasarkan laporan dalam kurun 1573 hingga 1627, pasukan Aceh dibawah Kendali Iskandar Muda bergerak 16 kali terlibat perang dengan Portugis. Aceh sulit ditaklukkan karena memiliki alutsista mumpuni kala itu, salah satu kapal perang induk Cakra Donya. Portugis menjuluki kapal Cakra Donya itu sebagai "Espanto del Mundo", alias Teror Dunia.

Kapal ini dikisahkan memiliki 100 meriam dan tergantung tiga lonceng sebagai alat penabuh perang, salah satu lonceng buatan tahun 1409, hadiah dari Kerajaan China ke Kerajaan Samudera Pasai yang diantar Laksama Cheng Ho ke Aceh tahun 1414, sebagai simbol persahabatan dua negara.

Selain mempertahankan Selat Malaka dari rebutan Portugis, Iskandar Muda juga pernah menaklukkan Kerajaan Deli, Johor, Bintan, Pahang, Kedah, Minangkabau, Perak dan Nias dari 1612 hingga 1625.

Berhasil menundukkan Kerajaan Pahang, Iskandar Muda ikut menikahi putri mahkota kerajaan yang bernama Kamaliah. Perempuan jelita itu kemudian dibawa ke Aceh dan dikenal dengan nama Putroe Phang alias Putri Pahang.

Dia membangun Gunungan atau gunung buatan dan taman sari di daerah Istana, untuk menghadapi rasa rindu permaisurinya akan kampung halaman.

Saat berkuasa, Iskandar Muda menjalin hubungan bilateral yang baik dengan negara-negara Eropa seperti Inggris, Belanda, Perancis, dan negara-negara Islam seperti Turki, Persia (kini Iran), India dan lainnya.

Dia juga membangun komunikasi harmonis dengan Kerajaan Inggris, salah satu surat yang dikirimkan kepada Raja Inggris, Raja James I tahun 1615 untuk menunjukkan bahwa Aceh sebagai salah satu negeri berdaulat dan kekuatan internasional saat itu.

"Hamba lah sang penguasa perkasa negeri-negeri di bawah angin, yang terhimpun di atas tanah Aceh dan atas tanah Sumatera dan atas seluruh wilayah-daerah yang menghadap ke Aceh, yang terbentang dari ufuk matahari terbit hingga matahari terbenam," demikian sepenggal surat dikirim Sultan Iskandar Muda kepada Inggris, Surat itu masih tersimpan di Museum Aceh.

Masa kepemimpinan Iskandar Muda, Aceh menjadi pusat peradaban Islam, banyak orang dari nusantara dan negara tetangga belajar ilmu agama ke sana. Sebuah pendidikan tinggi yang mengkaji berbagai ilmu yang pernah ada di Masjid Raya Baiturrahman.

Sejarah menemukan Kerajaan Aceh saat itu masuk dalam lima besar Kerajaan Islam terbesar dan terkuat di dunia abad 16, bersama Kesultanan Ottoman Turki, Kesultanan Syafawiyah di Persia, dan Kesultanan Moghul di India.

Aceh disegani sebagai negara berdaulat secara komersial, militer, pendidikan dan Ekonomi. Dalam mengatur sistem pemerintahannya, Kerajaan Aceh memiliki undang-undang sendiri bernama Qanun Meukuta Alam al Asyi.

Iskandar Muda juga takelon bulu menegakkan hukum. Dia pernah menghukum mati putranya sendiri, Meurah Pupok, karena biaya syariat Islam dan aturan kerajaan. Meurah Pupok dikebumikan di kompleks istana yang sekarang masuk ke daerah kuburan serdadu Belanda, Kherkof.

Kata-kata Iskandar Muda yang menyebutkan kala itu adalah “Gadoh anuek meupat jeurat, gadoh adat pat tamita” (anak hilang di mana-mana, hilang adat tidak tahu di mana) kini menjadi peribahasa yang terus diagungkan di Aceh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Hanya Satu Tujuan, Aceh Merdeka"

Sosok Panglima Komando Pusat AGAM Abdullah Syafi'i (Rahimahullah)