Dialog Atara Anggota Tubuh Dengan Malaikat Maut Ketika Dicabut Nyawanya
DIALOG ANTARA ANGGOTA TUBUH
DENGAN
MALAIKAT MAUT KETIKA DICABUT NYAWANYA
Sakaratul
Maut adalah peristiwa sakitnya kematian. Penderitaan yang paling akhir
bagi seorang yang hidup. Sebelum nyawa manusia dicabut, terlebih
dahulu ia akan mengalami pedihnya sakaratul maut. Itulah proses
kematian anak Adam, yaitu ketika terjadi perpisahan antara raga dan
nyawa.- Dunia dan kemewahannya adalah racun yang mematikan dan penawarnya adalah zuhud.
- Harta kekayaan dan adalah racun yang mematikan dan penawarnya adalah zakat.
- Perkataan adalah racun yang mematikan dan penawarnya adalah dzikir kepada Allah Swt.
- Umur adalah racun yang mematikan dan penawarnya adalah taat.
- Tahun seluruhnya adalah racun yang mematikan dan bulan ramadhan adalah penawarnya.
Setiap anggota tubuhnya akan saling mengucapkan selamat berpisah kepada satu sama lain. Proses itu sungguh menyakitkan dan suatu peristiwa yang sangat dahsyat. Allah Swt berfirman, “Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat pada saat orang-orang zhalim berada dalam tekanan sakaratul maut” ( Al-an’am 93)
Diriwayatkan
dalam suatu hadits: Apabila Allah Swt. Hendak mencabut nyawa hamba-Nya,
maka Malaikat Maut mendatangi dari arah mulut untuk dapat mencabut
nyawanya dari jasad hamba tersebut. Tetapi dari mulut hamba itu keluar
dzikir dan berkata:” Tidak ada jalan untukmu dari jalan ini.’’ Lalu
mulut hamba tersebut berzikir lama sekali.
Malaikat Maut kembali
kepada Allah Swt. Melaporkan hal tersebut kepada-Nya, dia lalu
berfirman: “ cabutlah roh hamba tersebut dari arah lain, wahai Malaikat
Maut!”
Malaikat Maut itu lalu mendatangi hamba tersebut dari
arah tangan, tetapi tiba-tiba keluar sedekah dari tangannya, dia
berkata: “tidak ada jalan bagimu mencabut nyawa melalui saya, karena
hamba tersebut banyak mengeluarkan sedekah melalui saya dan sering
membelai anak yatim dan sering munggunakan saya untuk menulis serta
memukul orang-orang kafir.”
Malaikat Maut lalu mendatangi kaki
hamba tersebut, dan kaki itu berkata:” tidak ada jalan bagimu mencabut
nyawa hamba ini melalui saya, karena dia selalu berjalan diatas kaki
ini untuk berangkat shalat berjamaah dan mendatangi
pengajian-pengajian.”
Malaikat Maut itu lalu mendatangi telinga
hamba tersebut dan telinga hamba itu berkata:” tidak ada jalan bagimu
mencabut nyawa hamba tersebut melalui saya, karena dia selalu
mengunakan saya untuk mendengat Al-Qur’an, azan dan dzikir.”
Malaikat
Maut itu lalu mendatangi mata hamba tersebut, dan mata itu berkata: “
tidak ada jalan untuk mencabut nyawa hamba Allah itu melalui saya,
karena dia selalu mengunakan saya melihat Al-Qur’an, wajah para ulama,
kedua orang tuanya dan orang-orang shaleh. Malaikat Maut itu terus
kembali menghadap Allah Swt. berfirman: “hai Malaikat Maut, gantungkan
nama-Ku pada telapak tanganmu dan tunjukkan kepada roh hamba-Ku
tersebut, sampai dia memandangnya dan keluar.”
Malaikat Maut itu
lalu menuliskan nama Allah Swt. pada telapak tangannya dan
memperlihatkan kepada hamba tersebut Roh hamba itu memandangnya, lalu
keluar berkat nama Allah Swt. dapat menghilangkan kepedihan ketika roh
dicabutkan, hanya karena hamba yang naza’ itu melihat dan membacanya,
maka tidaklah siksa yang menyakitkan itu lenyap dari orang dalam dadanya
telah ditiupkan asma Allah Swt. itu, tentu hilang dan lenyap. Jadi,
orang Islam yang terpatri dalam dadanya kalimat-kalimat Thayyibah itu
tidak merasakan kepedihan siksa dan kesedihan dihari kiamat. Allah Swt.
berfirman:
آ فمن شرح الله صدره, لللإسلم فهو علي نور من ربه
“maka apabila orang-orang yang telah dibukakan hatinya untuk menerima Islam, lalu dia mendapat cahaya dari tuhannya.”
(QS. 39, Az-Zumar: 22)
Racun Yang Mematikan dan Penawarnya
Dalam riwayat hadits, ada larangan tentang racun yang mematikan dan lima penawarnya, yaitu:
Ada
sebuah keterangan dari hadits Nabi Saw. Ketika seorang hamba yang
sedang naza’ (dicabut nyawanya), maka ada suara berseru dari sisi Allah
Swt: tinggalkan, agar dia beristirahat sejenak.” Apabila sampang pada
dada orang naza’, maka suara itu berseru lagi: “tinggalkan, agar dia
beristirahat sejenak.” Begitupula ketika roh sudah sampai kepada kedua
lutut dan pusar orang yang sedang naza’. Ketika roh sudah sampai pada
tenggorokannya, datanglah suara: “tinggalkan hamba itu barang sejenak,
agar anggota tubuhnya saling mengucapkan kata perpisahan satu dengan
lainya. Maka mata yang satu mengucapkan selamat tinggal dengan mata yang
lainnya dengan ucapan:
اسلام عليكم الى يوم القيامة
“semoga keselamatan tetap terlimpahkan kepadamu sampai hari kiamat.”
Begitu
pula tangan, dua telinga dan kedua kaki saling mengucapkan salam
perpisahan kepada jasad seperti diatas. Roh itu kemudian mengucapkan
salam kepada jasad, semua mengucapkan salam perpisahan. Tetapi kita
tetap memohon perlindungan kepada Allah Swt dari ucapan selamat tinggal
pada iman kit, dan memohon perlindungan-Nya, agar iman dan tauhid kita
tidak mengucapkan selamat tinggal pada hati kita.
Akhirnyan
tinggalah kedua tangan, kedua kaki yang tidak bergerak, kedua mata yang
tidak mampu melihat, kedua telingan yang tidak kuasa mendengar dan
jasad tanpa roh yang membujur kaku. Andaikata lisan tanpa ucapan iman
dan hati tanpa pengakuan kekuasaan Allah Swt. ketika menghembuskan nafas
terakhir, maka bagaimanakan kondisi hamba yang mati itu ketika berada
diruang lahad dengan kesendirian, tidak melihat siapapun, tanpa ayah,
ibu, teman, saudara, anak dan berbaring kaku tanpa alas dan selimut.
Andaikata yang mati itu tidaka melihat tuhannya(Allah Swt), maka
benar-benar dia telah mengalami kerugian yang amat besar.
Imam
Abu Hanifah berkata: “banyak sekali amal yang bisa melepaskan iman dari
hamba ketika naza’ (dicabut nyawanya). Semoga Allah Swt. menyelamatkan
kita semua dari terlepasnya iman.”
oleh DAQAIQUL AKHBAR (Rahasia Alam Gha'ib)
Komentar
Posting Komentar