Dialog Atara Anggota Tubuh Dengan Malaikat Maut Ketika Dicabut Nyawanya

DIALOG ANTARA ANGGOTA TUBUH 
DENGAN 
MALAIKAT MAUT KETIKA DICABUT NYAWANYA



Sakaratul Maut adalah peristiwa sakitnya kematian. Penderitaan yang paling akhir bagi seorang yang hidup. Sebelum nyawa manusia dicabut, terlebih dahulu ia akan mengalami pedihnya sakaratul maut. Itulah proses kematian anak Adam, yaitu ketika terjadi perpisahan antara raga dan nyawa.


  1. Dunia dan kemewahannya adalah racun yang mematikan dan penawarnya adalah zuhud.
  2. Harta kekayaan dan adalah racun yang mematikan dan penawarnya adalah zakat.
  3. Perkataan adalah racun yang mematikan dan penawarnya adalah dzikir kepada Allah Swt.
  4. Umur adalah racun yang mematikan dan penawarnya adalah taat.
  5. Tahun seluruhnya adalah racun yang mematikan dan bulan ramadhan adalah penawarnya.


Setiap anggota tubuhnya akan saling mengucapkan selamat berpisah kepada satu sama lain. Proses itu sungguh menyakitkan dan suatu peristiwa yang sangat dahsyat. Allah Swt berfirman, “Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat pada saat orang-orang zhalim berada dalam tekanan sakaratul maut” ( Al-an’am 93)

Diriwayatkan dalam suatu hadits: Apabila Allah Swt. Hendak mencabut nyawa hamba-Nya, maka Malaikat Maut mendatangi dari arah mulut untuk dapat mencabut nyawanya dari jasad hamba tersebut. Tetapi dari mulut hamba itu keluar dzikir dan berkata:” Tidak ada jalan untukmu dari jalan ini.’’ Lalu mulut hamba tersebut berzikir lama sekali.
Malaikat Maut kembali kepada Allah Swt. Melaporkan hal tersebut kepada-Nya, dia lalu berfirman: “ cabutlah roh hamba tersebut dari arah lain, wahai Malaikat Maut!”

Malaikat Maut itu lalu mendatangi hamba tersebut dari arah tangan, tetapi tiba-tiba keluar sedekah dari tangannya, dia berkata: “tidak ada jalan bagimu mencabut nyawa melalui saya, karena hamba tersebut banyak mengeluarkan sedekah melalui saya dan sering membelai anak yatim dan sering munggunakan saya untuk menulis serta memukul orang-orang kafir.”
Malaikat Maut lalu mendatangi kaki hamba tersebut, dan kaki itu berkata:” tidak ada jalan bagimu mencabut nyawa hamba ini melalui saya, karena dia selalu berjalan diatas kaki ini untuk berangkat shalat berjamaah dan mendatangi pengajian-pengajian.”

Malaikat Maut itu lalu mendatangi telinga hamba tersebut dan telinga hamba itu berkata:” tidak ada jalan bagimu mencabut nyawa hamba tersebut melalui saya, karena dia selalu mengunakan saya untuk mendengat Al-Qur’an, azan dan dzikir.”
Malaikat Maut itu lalu mendatangi mata hamba tersebut, dan mata itu berkata: “ tidak ada jalan untuk mencabut nyawa hamba Allah itu melalui saya, karena dia selalu mengunakan saya melihat Al-Qur’an, wajah para ulama, kedua orang tuanya dan orang-orang shaleh. Malaikat  Maut itu terus kembali menghadap Allah Swt. berfirman: “hai Malaikat Maut, gantungkan nama-Ku pada telapak tanganmu dan tunjukkan kepada roh hamba-Ku tersebut, sampai dia memandangnya dan keluar.”

Malaikat Maut itu lalu menuliskan nama Allah Swt. pada telapak tangannya dan memperlihatkan kepada hamba tersebut Roh hamba itu memandangnya, lalu keluar berkat nama Allah Swt. dapat menghilangkan kepedihan ketika roh dicabutkan, hanya karena hamba yang naza’ itu melihat dan membacanya, maka tidaklah siksa yang menyakitkan itu lenyap dari orang dalam dadanya telah ditiupkan asma Allah Swt. itu, tentu hilang dan lenyap. Jadi, orang Islam yang terpatri dalam dadanya kalimat-kalimat Thayyibah itu tidak merasakan kepedihan siksa dan kesedihan dihari kiamat. Allah Swt. berfirman:

آ فمن شرح الله صدره, لللإسلم فهو علي نور من ربه
“maka apabila orang-orang yang telah dibukakan hatinya untuk menerima Islam, lalu dia mendapat cahaya dari tuhannya.”
(QS. 39, Az-Zumar: 22)

Racun Yang Mematikan dan Penawarnya

Dalam riwayat hadits, ada larangan tentang racun yang mematikan dan lima penawarnya, yaitu:


Ada sebuah keterangan dari hadits Nabi Saw. Ketika seorang hamba yang sedang naza’ (dicabut nyawanya), maka ada suara berseru dari sisi Allah Swt: tinggalkan, agar dia beristirahat sejenak.” Apabila sampang pada dada orang naza’, maka suara itu berseru lagi: “tinggalkan, agar dia beristirahat sejenak.” Begitupula ketika roh sudah sampai kepada kedua lutut dan pusar orang yang sedang naza’. Ketika roh sudah sampai pada tenggorokannya, datanglah suara: “tinggalkan hamba itu barang sejenak, agar anggota tubuhnya saling mengucapkan kata perpisahan satu dengan lainya. Maka mata yang satu mengucapkan selamat tinggal dengan mata yang lainnya dengan ucapan:

اسلام عليكم الى يوم القيامة
semoga keselamatan tetap terlimpahkan kepadamu sampai hari kiamat.”

Begitu pula tangan, dua telinga dan kedua kaki saling mengucapkan salam perpisahan kepada jasad seperti diatas. Roh itu kemudian mengucapkan salam kepada jasad, semua mengucapkan salam perpisahan. Tetapi kita tetap memohon perlindungan kepada Allah Swt dari ucapan selamat tinggal pada iman kit, dan memohon perlindungan-Nya, agar iman dan tauhid kita tidak mengucapkan selamat tinggal pada hati kita.

Akhirnyan tinggalah kedua tangan, kedua kaki yang tidak bergerak, kedua mata yang tidak mampu melihat, kedua telingan yang tidak kuasa mendengar dan jasad tanpa roh yang membujur kaku. Andaikata lisan tanpa ucapan iman dan hati tanpa pengakuan kekuasaan Allah Swt. ketika menghembuskan nafas terakhir, maka bagaimanakan kondisi hamba yang mati itu ketika berada diruang lahad dengan kesendirian, tidak melihat siapapun, tanpa ayah, ibu, teman, saudara, anak dan berbaring kaku tanpa alas dan selimut. Andaikata yang mati itu tidaka melihat tuhannya(Allah Swt), maka benar-benar dia telah mengalami kerugian yang amat besar.
Imam Abu Hanifah berkata: “banyak sekali amal yang bisa melepaskan iman dari hamba ketika naza’ (dicabut nyawanya). Semoga Allah Swt. menyelamatkan kita semua dari terlepasnya iman.”

oleh DAQAIQUL AKHBAR (Rahasia Alam Gha'ib)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Hanya Satu Tujuan, Aceh Merdeka"

Sosok Panglima Komando Pusat AGAM Abdullah Syafi'i (Rahimahullah)