Jejak Sang Panglima Perang Perempuan di Aceh

Rumah Cut Nyak Dhien

Seorang wanita Aceh yang dikenal tangguh dan menjadi pemimpin pasukan perang melawan segala bentuk penjajahan di bumi Aceh kala itu.

Jejak srikandi dari Tanah Rencong itu sampai sekarang masih bisa dilihat di rumah peninggalannya sebagai kenangan dan bukti sejarah untuk generasi masa akan datang.

Beralamat di Desa Lampisang, Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar.
Rumah  yang dibangun tahun 1893 ini merupakan hibah dari pihak Belanda ketika itu.

Pemberian ini bukan tanpa alasan.
Sang suami Cut Nyak, Teuku Umar mengatur srategi perang dengan membelot ke pihak penjajah untuk menguasai strategi Belanda dan peralatan tempur mereka.
Tak berumur panjang, tiga tahun usai dibangun rumah itu dibakar oleh Belanda karena penjajah mendapati Teuku Umar membangkang dan kembali memimpin perang melawan mereka disetiap medan pertempuran.

Atas inisiatif Pemerintah Aceh, Rumah Cut Nyak Dhien dibangun kembali tahun 1987 dengan memajang berbagai manuskrib dari Museum Negeri Belanda.
Seperti lazimnya rumah adat Aceh, rumah Cut Nyak Dhien berbentuk rumah panggung yang terdiri atas tiga ruangan utama di dalamnya.
Ketiga ruangan tersebut yaitu, serambi depan untuk kalangan laki-laki, serambi tengah untuk ruang keluarga, dan serambi belakang untuk kaum perempuan.
Bedanya selain sebagai tempat kediaman, rumah Cut Nyak Dhien juga berfungsi sebagai markas perang pejuang Aceh kala itu.  Sehingga secara fungsional rumah terbagi dua bagian dan dipisahkan dengan ukuran yang lebih besar daripada rumah Aceh pada umumnya.

Meskipun begitu tetap mempertahankan ciri khas rumah adat yang melekat padanya. Semburat warna kuning yang menjadi simbol raja diraja Aceh memburat hampir di semua perkakas rumah. Dari balik lemari pajang, berbilah-bilah senjata tradisional seperti parang dan rencong terhunus. Perabotan dengan ukiran Jepara bertengger di setiap sudut ruangan rumah.

Rumah tersebut dibangun sama persis dengan bentuk aslinya, kecuali sumur dan fondasi saja yang masih asli karena tidak ikut terbakar.

Rumah yang terletak di area seluas 2.200 meter tersebut sekarang menjadi tempat wisata para turis lokal dan mancanegara.  Kebanyakan tamu yang datang dibawa oleh agen travel dan berasal dari turis Malaysia.

Srikandi Aceh itu telah lama tiada, namun spiritnya masih tetap hidup dari masa ke masa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Hanya Satu Tujuan, Aceh Merdeka"

Sosok Panglima Komando Pusat AGAM Abdullah Syafi'i (Rahimahullah)