Cut Nyak Dhien, Panglima Perang & Serikandi dari Aceh


Sebagai ‘daerah modal’ bagi Indonesia, Aceh Darussalam mempunyai sederet pahlawan nasional.  Semangat juang anak bangsa terlihat dari dahsyatnya perang yang berkecamukdi wilayah ini.  Bukan kecanggihan peralatan perang atau sejenisnya yang dimiliki Aceh, tapi karena nyala nasionalisme yang tak pernah padam dalam diri Rakyat Aceh.
Lebih dari itu bagi Rakyat Aceh, perang melawan Belanda merupakan perang membela agama.  Berdasarkan inilah yang membuat perang berkobar sehingga daerah di ujung barat Indonesia ini menjadi satu-satunya yang tak bisa ditaklukkan penjajah kala itu.

Sosok Cut Nyak Dhien
Agresi militer Belanda telah memantik nyala nasionalisme dan mengobarkan semangat jihad pribumi di Serambi Mekkah.  Inilah yang menyebabkan banyak pejuang lahir dari Tanah Rencong.  Salah satunya adalah Cut Nyak Dhien.
Istri dari seorang pahlawan nasional terkemuka kala itu, Teuku Umar.  Walau sang pahlawan telah tiada namun gelaran pahlawan nasional terkemuka negeri ini masih melekat pada namanya.

Seorang wanita Aceh yang dikenal tangguh dan menjadi pemimpin pasukan perang melawan segala bentuk penjajahan di bumi Aceh.
Teuku Umar merupakan suami kedua dari Cut Nyak Dhien.
Dari pernikahan tersebut mereka dikaruniai seorang keturunan bernama Cut Gambang.
Perang Aceh melawan Belanda merupakan perlawanan yang meninggalkan pengalaman paling perih di pihak penjajah ketika itu.
Belanda harus merelakan nyawa empat jenderal dan ribuan armada perangnya melayang ketika perang berkecamuk.
Menghadapi gerilyawan Aceh yang dikenal gigih dan tak takut mati.
Dalam sebuah pertempuran sengit, Teuku Umar hijrah ke Meulaboh yang sekarang menjadi Kabupaten Aceh Barat dan ditembak di sana oleh penjajah.

Perjuangan lalu dilanjutkan oleh sang istri, Cut Nyak Dhien yang kemudian mengambil alih dengan memimpin langsung pasukan perang di Serambi Mekkah.
Namun akhirnya srikandi dari Aceh itu ditangkap dan diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat.
Di sanalah ia mengembuskan napas terakhir dan dimakamkan di daerah setempat.
Diakhir hidupnya Cut Nyak Dhien tutup usia dalam umur 60 tahun (1848 - 1908).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Hanya Satu Tujuan, Aceh Merdeka"

Sosok Panglima Komando Pusat AGAM Abdullah Syafi'i (Rahimahullah)