Taujihat Kepada Pendidik & Da'i
Berpindah dari satu maqam, profesi ke profesi lain seperti dari maqam tajrid ke maqam asbab atau sebaliknya termasuk dalam katagori akhlak yang buruk, satu diibaratkan bersumber dari nafsu yang tersembunyi satu lagi digambarkan sebagai menukik dari semangat yang tinggi.Demikian ibnu Athailah berkata dalam Hikamnya.
Contoh lebih kentara menurut Syaikh Albuthy, Seorang yang ngotot mencari rezeki dengan satu profesi padahal dia telah Allah pakai sebagai da'i, pendidik serta berkecukupan dengan maqam tajridnya itu maka ia telah turun dari semangat yang tinggi. Apalagi jika kesibukannya itu menyebabkan dia meninggalkan kewajiban agamanya.
Contoh ini mengingatkan saya kepada keadaan sebagian teungku, guree, ustaz dan pendidik telah memilih jalan tarbiyah sebagai jalan hidupnya, lalu karena merasa hidupnya sederhana atau merasa ingin mempunyai profesi lainnya secara permanen maka dia meninggalkan jalan tarbiyah.
Jalan tarbiyah adalah jalan hidup yang utama, penuh berkah, kemulyaan dan ladang amalan yang subur bagi yang menyadarinya. Begitu banyak selain kita sangat merindukan ingin menjalani hidup sebagai pendakwah, pendidik dan lampu dalam masyarakatnya namun mereka tidak mampu, lalu kenapa kita yang telah dianugerahkan kemulyaan ini ingin meninggalkan karunia terbesar ini?!.
Bukankah kita mempunyai keinginan sebagaimana keinginan ulama rabbani yang sangat ingin wafat ketika sedang mengajar dengan niat ikhlas karena Allah sehingga kondisi ini menjadi saksi yang meringankan kita di depan mahkamah Allah?!, bukankah kita selalu berdoa agar Allah "memakai" kita sebagai penyebar agamaNya, penolong SyariatNya dan penyubur Sunnah NabiNya?!.
Jika benar itu keinginan kita lalu kenapa Ingin meninggalkan jalan dakwah dan tarbiyah ini?! Bukankah ulama berkata:" Seseorang akan mati menurut bagaimana dia hidup". Saya kira ini yang melatari beberapa ulama kita ureung Aceh yang selalu mewasiatkan sebuah ungkapan: " Jika nantinya kalian pulang kampung maka jangan sampai kalian meninggalkan belajar dan mengajar ( beut semuebuet), sekalipun hanya mengajar Alif Ba".
Alhamdulillah atas rahmat Allah yang telah memberikan kesempatan kepada kita untuk mengecap ilmu ulama Tuhan dan duduk bersimpuh, bertalaqqi kepada mereka. sungguh andai tanpa mereka, kita hanya tidak lebih dari manusia liar, atau binatang berwajah manusia.
-Mannan Ismail-

Komentar
Posting Komentar