Baitul Maqdis(Bitai), Aceh, dan Turki

Komplek Makam Tgk Syik Di Bitai, Banda Aceh

Bitai yang dikenal sebagai kampung Turki membuktikan bahwa Aceh punya sejarah erat dengan Turki di masa kekhilafahan dulu.

Bitai adalah sebuah kampung di Kecamatan(Subdistrict) Jaya Baru, Banda Aceh, Aceh Darssalam.

Sebelum terjadi Gempa Bumi dan Tsunami pada 26 Desember 2004 silam, penduduknya diperkirakan berjumlah 1.580 jiwa di Bitai. Dari hasil sensus pasca tsunami diketahui jumlah penduduknya sekarang berjumlah 421 jiwa (2005).

Turki dikenal kerap membantu kerajaan Aceh menjaga keudaulatannya. Pada masa Sultan Salahuddin memerintah, 1520 – 1548 M, hubungan erat dalam berbagai bidang Aceh - Turki sangat terasa bahkan Aceh bagaikan daratan Turki yang terpisah lautan sahaja hingga Aceh dengan bangganya menggunakan bendera Turki sebagai bendera negaranya. Seiring berjalannya waktu banyak orang-orang Turki yang kemudian menetap di Bitai kala itu.

Orang Turki yang pertama sekali menetap di Bitai, adalah Muthalib Ghazi bin Mustafa Ghazi atau lebih terkenal dengan nama Tengku Syekh Tuan Di Bitai. Nama Bitai diambil untuk mengenang asal orang Turki tersebut dari Palestina atau Bayt Al-Maqdis kerana dulu palestine termasuk kedalam kekuasaan kekhilafahan Othmani/Ottoman. Beliau dan keturunannya turun temurun hidup di Bitai dan dimakamkan di sana. Saat ini satu komplek makam berada di sana, yang bernama Komplek Makam Tengku Di Bitai.

Inilah fakta yang menunjukkan bahwa hubungan antara Aceh dan Kekhilafahan Turki Uthmani/Ottoman sudah terbina sejak dahulu.

Komplek Makam Tgk Syik Di Bitai, Banda Aceh

Menurut catatan, ada 48 buah makam para guru, ustadz, juga petugas militer Kekhilafahan Turki Uthmani yang pernah bertugas di Aceh masa itu.

Kita tahu bahwa untuk membantu melatih para rakyat Aceh mengusir penjajah, Turki Uthmani mengirimkan berbagai macam bantuan yang dibutuhkan Aceh kala itu. Persenjataan lengkap dengan tentara dan pelatihnya, ilmu lengkap dengan pengajarnya dan lain sebagainya.

Alkisah, semula para ulama Turki ingin mengajarkan Islam di Aceh dan pasantren, Perkembangan Islam di Bitai selanjutnya sangat maju karena banyak orang luar Aceh yang belajar untuk memperdalam agama Islam.

Di samping mengembangkan agama Islam, para kepala Negara itu juga mengadakan kerja sama pada bidang ekonomi dan perdagangan serta menjalin hubungan yang baik pada masalah ketahanan negara.

Turki ikut berjasa membantu Aceh memberikan perlengkapan perang di masa Pemerintahan Sri Sultan Salahuddin (Sultan Aceh kedua yang mangkat pada tahun 1548 M, hanya memerintah 28 tahun tiga bulan).

Di masa pemerintahannya, Salahuddin bekerjasama dengan Negara-negara lain seperti Turki, tanah Melayu, Pakistan dan Arab Saudi.

Kala itu, banyak masyarakat Melayu yang beragama Islam juga orang Turki pindah dan menikah dengan orang Aceh yang tinggal di Bitai.

Pada saat wafatnya Raja/Sultan Salahuddin, orang Turki yang merupakan sahabatnya, memberikan wasiat bahwa pada saat meninggal dunia mereka minta dimakamkan saling berdekatan yaitu di Komplek Situs Makan Tuanku Di Bitai, Banda Aceh.

Jumlah makam kuno di sekeliling makam Sultan Salahuddin secara keseluruhan ada lebih 48. Secara keseluruhan batu nisannya berbentuk segi delapan dan hiasannya bertuliskan kaligrafi dengan bahasa Arab. Segi delapan mewujudkan delapan sahabat dari Aceh, Turki dan Saudi Arabia. Pada bagian bawah nisan terdapat pola luas tumpal, puncak nisan cembung diatasnya terdapat lingkaran sisi delapan.

Keturunan Tengku Di Bitai juga di makamkan di sekeliling makam Sultan Salahuddin dalam situs tanah wakaf dan terdapat masjid kuno yang terbuat dari kayu dan sebagian di semen dindingnya.

Pasca Tsunami masjid kuno tersebut mengalami kerusakan parah dan akhirnya dibangun suatu masjid baru dengan motif ornamen Timur Tengah bergaya negara Turki dan ada juga sebuah museum tentang sejarah kedatangan Turki di Bitai Banda Aceh.

Komplek Makam Tengku Di Bitai dan Sultan Salahuddin ini sendiri terletak di tengah perkampungan Bitai dengan luas area 500 meter persegi.

Kerajaan Turki kembali mengirimkan berbagai macam bantuan termasuk juga tentaranya untuk membantu membangun kembali rumah-rumah penduduk yang hancur diterpa oleh gelombang tsunami pada 26 Desember 2004 silam alhasil ribuan rumah berhasil dibina kembali untuk warga yang selamat dari Gempa Bumi dan Tsunami kala itu.

Kekhilafahan Othmani dan Bencana Tsunami sepertinya mengingatkan kembali sejarah yang pernah tercipta berkenaan bantuan atara dua daratan bak satu negara Aceh - Turki masa dulu kini terulang kambali hingga mengingatkan kita betapa masa pernah membuktikan bahwa kejayaan islam pernah menyatukan dua Negara ini, Aceh - Turki.

Komentar