Lima Rahasia Luqman al-Hakim Dalam Mendidik Anak
Lima Rahasia Luqman al-Hakim Dalam Mendidik Anak
Sebenarnya mendidik anak hidup Islami dan membentengi mereka dari
kesesatan, tak sulit mencarinya dalam Al-Qur’an. Prinsip-prinsip
pendidikan anak yang Islami sangat jelas disampaikan dalam kisah Luqman
al-Hakim berikut ini:
- Aqidah Yang Kuat
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia
memberi pelajaran kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan
Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar
kezaliman yang besar. (Luqman (31) : 13).
Bahasan yang paling awal dididikkan kepada anak adalah tentang
keyakinan kepada Allah, Al-Ahad. Itulah pondasi pendidikan yang pertama
dan utama ditanamkan dalam pikiran anak-anak. Sembahlah Allah saja, dan
jangan menyekutukannya dengan apa atau siapa pun, di mana pun dan kapan
pun!
- Kesadaran akan pengawasan Allah
Pada kesempatan berikutnya, setelah iman tertanam kuat di dada, Luqman berkata:
(Luqman berkata), “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu
perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau
di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya).
Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui.” (Luqman (31) : 16)
Di sini anak dididik sadar akan pengawasan dan hukum Allah. Betapa
kebaikan dan keburukan yang diperbuat akan selalu diketahui-Nya, dan
diberi balasan yang benar-benar setimpal oleh Allah SWT.
Lathiifun, Maha Halus pengetahuan-Nya, sehingga segala sesuatu tiada yang tersembunyi betapa pun lembut dan halusnya. Khabiirun,
Maha Mengetahui langkah-langkah semut sekecil apa pun yang ada di
kegelapan malam yang sangat pekat. (Ibnu Katsir jilid III : 1990 :
428-429).
- Shalat, Amar ma’ruf nahi mungkar, dan sabar
Aqidah yang kokoh dan kesadaran akan pengawaan Allah perlu dibuktikan
dengan perbuatan. Maka Luqman menuntun putranya kepada amal shaleh atau
kebaikan yang harus dilakukan. Di ayat ke-17 Luqman menasehati
putranya:
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan
yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan
bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian
itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (Luqman (31) : 17)
Luqman menghasung putranya untuk melaksanakan shalat, berda’wah dan
bersabar, sebagai tanda bakti dan bukti kesetiaan hamba kepada
Penciptanya.
- Tidak sombong
Seseorang tidak akan mampu hidup sendiri di dunia ini. Ia bersama
trilyunan makhluk Allah lainnya hidup bersama di jagat raya ini dan
saling tergantung satu dengan lainnya. Karenanya tak ada satu makhluk
pun yang patut membanggakan diri di hadapan makhluk lainnya. Inilah yang
menjadi pokok nasehat Luqman berikutnya.
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena
sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi
membanggakan diri. (Luqman (31) : 18)
- Sederhana
Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (Luqman (31) 19)
Di bagian akhir nasehat Luqman kepada anaknya adalah hasungan untuk
bertindak-tanduk dan bertutur kata yang sopan dan sederhana. Mengapa
sikap tersebut demikian penting? Tidak lain karena sikap sederhana
menghindarkan manusia dari iri dengki yang membawa permusuhan.
Bukankah banyak permasalahan hidup yang timbul gara-gara dipicu sikap atau tutur-kata yang berlebih-lebihan dan menyakitkan?
Apa yang diajarkan Luqman al-Hakim kepada putranya tampak jauh lebih
sederhana dalam ukuran kita saat ini. Tetapi dalam kesederhanaan itu
terdapat makna yang dalam, yang menjadi inti kepribadian muslim.
Iman, Sadar, Shalat, Amar ma’ruf Nahi mungkar, Sabar, Rendah hati,
dan Sederhana. Mari kita terapkan pada diri sendiri, kita tanamkan pada
jiwa anak-anak dan keluarga tercinta, dan kita sebarkan pada lingkungan
sekitar. InsyaAllah negeri ini akan menjadi lebih Islami dan diberkahi
Allah SWT.
Wallahua’lamu bishsowwab.

Komentar
Posting Komentar